MENJADI ORANG TUA CERDAS MENDIDIK ANAK DI ERA DIGITAL




Teknologi di Indonesia saat ini berkembang sangat cepat. Aneka perangkat digital canggih beredar di pasaran mulai dari televisi, komputer, laptop, smartphone. Pada dasarnya perangkat digital tersebut bersifat netral, akan menjadi positif dan negatif tergantung si pengguna dalam memanfaatkannya.
Salah satu dampak terbesar dari teknologi adalah bahaya narkotika mata (pornografi) yang tersebar luas di dunia maya, ancaman pornografi terbesar tersebut sasaran utamanya adalah pada anak-anak. Diantara media pornografi yang dapat dilihat anak dan remaja yaitu melalui iklan, televisi, hp, buku cerita, komik, film bioskop, games, situs internet, sinetron, media cetak.
Ancaman pornografi menurut psikolog Ely Risman dapat muncul dimana saja. Tempat anak dapat melihat pornografi diantaranya 52% di rumah, 10% di rumah teman, sisanya 38% diluar rumah seperti bioskop dll. Pernah pula dilakukan penelitian tentang perasaan anak saat melihat materi pornografi respon dari sang anak 48% jijik, 27% kaget, 12% biasa saja, 2% terangsang atau senang, 4% tidak pernah, 3% takut, 1 % lain-lain.
Para petinggi Apple, Yahoo, Google dll yang ada di Silicon Valley Amerika menyekolahkan anak mereka ke Sekolah Waldrof yang tidak memberikan fasilitas computer. Alasan terbesar karena menurut mereka, computer belum cocok untuk anak sekolah. Di Finlandia dan Jerman, anak dibatasi dalam penggunaan ponsel begitu juga di Perancis, anak SD dan SMP dilarang menggunakan ponsel di sekolah.
Seiring dengan ancaman yang di depan mata ternyata perkembangan teknologi yang pesat itu sulit untuk dikendalikan namun dapat dikendalikan oleh si penggunanya. Oleh karena itu, kunci pengendalian tersebut ada pada orang tua dalam mendidik anak, mengajarkan memanfaatkan teknologi dengan tepat. Apabila orang tua membiarkan anaknya melakukan aktivitas dengan perangkat difgital secara bebas maka itu artinya orang tua ibarat membebaskan anak di “kandang macan”.
Kita ingat kembali pesan Khalifah kedua, Umar bi Khattab “Didiklah anak-anakmu karena mereka akan hidup pada zaman yang berbeda dengan zamanmu”. Ini berarti sebagai orang tua harus mendidik anak dengan strategi-strategi sesuai pada zaman anak tersebut. Mengenal dampak negatif dan positif teknologi juga harus diketahui orang tua agar menjadi cerdas dalam mendidik anak di era digital.
Menurut Sri Rumani dan Sri Sundari (2004) ada sisi positif dari penggunaan digital teknologi yaitu menjadikan hidup lebih praktis, Edukasi, Searching hal-hal yang belum diketahui, Belajar hal baru, membuat games, belajar dan pembelajaran akademis, mencari ide, silaturahim dengan teman-teman yang jauh tempatnya
Namun dampak negatif perangkat digital dapat mempengaruhi perkembangan anak, diantaranya

1.   Popcorn Brain
Beberapa orang tua merasa bangga saat anaknya yang masih kecil sudah akrab dengan laptop atau smartphone. Anak tersebut dapat duduk manis dan bisa berkonsentrasi dengan asyiknya. Keadaan ini sebenanya tidak sekedar itu, pada dasarnya anak tersebut sedang dikendalikan oleh teknologi atau bisa dikatakan anak ini mengalami popcorn brain. Yee-Jin Shin, seorang psikiater dan praktisi pendidikan Korea Selatan dalam bukunya mendidik Anak di Era Digital menjelaskan bahwa popcorn brain itu kondisi dimana otak anak meletup-letup karena merespon stimulus yang kuat akibat terbiasa dengan layar perangkat digital. Dalam bukunya juga disebutkan bahwa otak yang dalam kondisi meletup-letup ini atau popcorn brain akan membuat anak selalu mencari jalan hal-hal yang semakin lama semakin brutal, impulsif, cepat dan menarik.

2.   Daya Konsentasi Melemah
Anak yang mengalami popcorn brain ini akan merespon datar stimulasi dari orang tua yang kurang menarik dan ajakan bermain di alam terbuka, kalaupun tertarik maka si anak ini akan cepat bosan dan ingin kembali ke smartphone nya. Ketika otak hanya akan mencari stimulasi yang kuat maka ini akan menurunkan daya konsentrasi anak pada kegiatan yang lain yang berujung daya ingat anak akan melemah.
3.   Pengendalian Emosi Melemah
Ketika anak merasa bosan dengan aktivitas selain menggunakan perangkat digital maka ini menjadikan proses belajar mengendalikan emosi tidak maksimal. Anak akan cepat marah, kesal dan bosan saat tidak menggunakan smartphone/laptopnya.
4.   Menyebabkan RSI atau Repetitive Strain Injuries.
RSI merupakan istilah yang digunakan untuk mendefinisikan berbagai macam cedera pada otot, tendon, saraf (NHS Direct, 2007). Cedera ini biasanya diakibatkan oleh aktivitas yang membutuhkan gerakan berulang misalnya mengetik, mengeklik mouse. RSI ini jika berlangsung lama juga akan mengakibatkan cedera pada bagian atas tubuh seperti leher, lengan, bahu juga pergelangan tangan.
5.   Gangguan fisik seperti mata menjadi rabun dan mudah lelah
Ciri-ciri anak yang telah kecanduan pornografi dan games yang tidak mendidik diantaranya: Rasa empati mulai menghilang, Keinginan dan hal yang diminta anak harus diperoleh, Prestasi akdemik menurun, Secara emosional lebih menutup diri, Suka menyalahkan oranglain, Jika bicara suka menghindari kontak mata, Sulit berkonsentrasi, Mulai bersikap impulsif, Memiliki rasa malu tidak pada tempatnya.
Mengasuh anak ibarat menyemai benih maka akan menuai benih tersebut di masa panen. Dampak teknologi dapat dirasakan langsung juga dirasakan tidak langsung atau besok saat masa panen. Oleh karena itu menjadi orang tua yang cerdas dalam mendidik anak di era digital sangat diperlukan. Beriku ini tips mendidik anak di era digital:

1.     Pola asuh warisan yang menyimpang harus mulai ditinggalkan
Pola asuh warisan adalah pola asuh saat orangtua mendidik anak dengan gaya sama dapat didikan dari orangtuanya di masa kecil. Ada beberapa gaya yang menyimpang dalam mendidik anak yakni selalu menyalahkan, membandingkan, mengancam, menyindir, mengkritik pedas, memerintah dengan keras, membohongi dsb. Pola Asuh warisan yang meyimpang ini akan mengakibatkan anak mudah marah, dendam, cepat bosan dirumah
2.     Orang tua dapat bersahabat dengan teknologi, belajar memanfaatkan teknologi dengan tepat dan lebih bagus lebih pintar daripada anak. Misalnya orang tua dapat mengendalikan teknologi dengan selalu mengecek riwayat jelajah dunia maya anak, orang tua dapat mengatur setting aman dalam jelajah di youtube,
Allah telah mengajarkan manusia pada firmannya dalam QS Al A’raf : 179 “Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka jahanam) kebanyakan dari jin dan manusia. Mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya utuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah) dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.”
3.     Menanamkan pondasi agama yang kuat pada anak.
Parenting immun selfer pada anak. Ini merupakan model pendampingan anak agar memberikan pemahaman yang selektif pada anak. Orang tua dapat mengajak anak bijak dalam menggunakan internet, mengenalkan apa yang baik dilihat/ dimainkan dan apa yang tidak baik untuk anak, memberikan alternatif film/ games yang menantang dan bermanfaat untuk anak.
4.     Orang tua sebagai role model atau contoh teladan untuk anak
Anak-anak memerlukan model, contoh teladan dalam bertuturkata dan beraktivitas. Orang tua yang mendambakan anaknya menjadi sholikh dan sholikhah lebih baik memantaskan diri menjadi orang tua yang sholikh dan sholikhah. Jangan sampai aktivitas laptop/smarthphone yang dilakukan orang tua mengesampingkan dalam mendidik anak.
5.     Menjadi orang tua yang sabar, menerima anak apa adanya dan memaafkan kesalahan anak
Membuat anak diterima apaadanya, tidak dibandingkan dengan anak lain
6.  Apabila anak sudah terlanjur kecanduan perangkat digital maka sebagai orang tua selalu mendekatkan diri kepada Allah, perbanyak sholat, banyak mengajak membaca al Qur’an, bersyukur, bersedekah dan terus berusaha memberikan terapi pada anak agar dapat menjauhkan diri dari game/ smartphone/ laptop.
Siapa saja yang mengabaikan mendidik anaknya dalam hal-hal yang berguna baginya lalu ia membiarkannya begitu saja berarti ia telah berbuat kesalahan besar. Mayoritas penyebab kerusakan anak adalah akibat orangtua yang mengabaikan mereka serta tidak mengajarkan kewajiban-kewajiban dan Sunnah-sunnah agama (Ibul Qayyim al-Jauziyah Rahimahullah)
7.     Memberikan aturan dalam penggunaan teknologi
a.      Orang tua dapat memberikan pertanyaan kepada anak
· “apa” apa yang ditonton, apa yang dimainkan,
· “berapa lama” berapa lamakah waktu menonton, berapa lamakah waktu memainkan permainan tersebut,
·  “darimana” darimanakah mengetahui permainan atau film tersebut sehingga pengendalian menonton atau maminkan pada saat selanjutnya dapat dilakukan,
· “dengan siapa”dengan siapa menonton, dengan siapa bermain
    Apabila anak sudah mulai baligh maka dapat diperkenalkan bagaimana hukum berikhtilat (bercampur laki-laki dan perempuan) di tempat yang gelap, hukum melihat aurat lawan jenisnya, dampak dari hal tersebut dan alasan yang ilmiah kenapa tidak boleh ini atau itu.
b.     Orang tua juga dapat membahas dengan anak sesudah menonton film atau sesedah melakukan suatu permainan.
Firman Allah dalam QS An Nur: 31 “Katakanlah kepada wanita yang beriman: hendaklah mereka menahan pandangannya dan kemaluannya dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya kecuali yang (biasa) Nampak dari padanya..”
8.     Mengganti kecanduan game dengan kecanduan Qur’an, menghafalkan Qur’an dan Hadits Rasulullah



Komentar