Anak merupakan hiasan dunia
yang tidak ternilai harganya. Mereka dilahirkan dalam keadaan fitrah, putih,
suci tanpa ada setitik noda dan dosa. Telah diriwayatkan dari Abu Hurairah Ra
bahwa Rosulullah SAW bersabda:
“Apabila anak Adam
meninggal dunia maka terputuslah amalnya kecuali tiga perkara : sedekah
jariyah, ilmu yang bermanfaat dan doa dari anak yang sholikh (HR. Muslim)
Kita
sebagai orangtua akan beruntung jika memiliki anak yang sholikh dan sholikhah. Untuk
membentuk anak yang sholih dan sholikhah tidak semudah membalik telapak tangan,
salahsatunya yakni dengan cara mengajarkan kebiasaan-kebiasaan yang baik dan sebagai
orang tua dengan memberikan keteladanan pada anak-anaknya. Dan diantara sekian
banyak ajaran kesholikhan adalah mengajarkan anak puasa sejak dini.
Pada dasarnya,
anak belum memiliki kewajiban untuk mekasanakan puasa sehingga bukan tugas
orang tua mewajibkan anak-anak nya berpuasa namun hanya mendidik anak-anak
untuk berpuasa. Ada sebuah kisah pada jaman Rosulullah SAW, dari Rubayyi’ binti
Mu’awwidz berkata, “Rasulullah telah mengutus untuk mengumumkan pada pagi
hari asyura’ di wilayah kaum Anshar yang berada di kota Madinah”.
“Barang siapa yang pagi hari ini berpuasa,
hendaklah menyelesaikannya. Barang siapa yang tidak berpuasa (sudah sarapan),
hendaknya menahan (makan dan minum) sampai selesai.”
Sesudah mendapat pengumuman di atas, kami
berpuasa dan mengajak anak-anak untuk melaksanakan puasa. Kami juga mengajak
mereka ke masjid dan memberikan mereka mainan dari kulit (wol). Jika mereka
menangis karena lapar, kami menyodorkan mainan sampai waktu berbuka puasa tiba.” (HR.
Bukhari dan Muslim)
Walaupun
anak-anak tersebut masih kecil, ternyata ada sebuah kisah yang menggambarkan
masih adanya orang besar yang kalah dari mereka.
“Umar radhiyallahu ‘anhu berkata kepada
orang yang mabuk-mabukan pada siang hari bulan Ramadhan, ‘Celaka kamu!
Anak-anak kami yang masih kecil saja berpuasa!‘ Kemudian beliau memukulnya.”
(Shahih Al-Bukhari, bab “Shaum Ash-Shibyan”, no. 1690)
Orang tua
harus memiliki sikap yang perhatian terhadap anak. Setiap anak memiliki sifat
unik, yang memiliki pertumbuhan dan perkembangan masing-masing. Orang tua yang teliti
dan perhatian akan mengetahui dan menyadari seberapa siapkah anak mulai dilatih
puasa. Ada anak yang ternyata sejak 3 tahun sudah mampu menahan lapar dan haus,
tetapi ada juga yang usia 6 tahun mampu puasa sampai beduk saja (dhuhur).
Berikut
ini adalah tips-tips sederhana yang dapat dilakukan oleh orang tua dalam
mendidik anak, diantaranya sebagai berikut:
1. MENANAMKAN
RASA CINTA IBADAH PADA ALLAH
Orang tua memiliki
kewajiban menanamkan rasa cinta kepada Allah SWT yakni rasa cinta saat
melakukan ibadah dengan cara yang menyenangkan. Ibadah yang dilaksanakan secara
terus menerus akan menjadi kebiasaan, maka rasa indah dan manisnya akan terasa
saat anak tumbuh dewasa. Hal ini sama halnya dengan mengajarkan puasa pada anak
dengan cara tidak dipaksa dan diluar batas kemampuan anak, maka ibadah yang
dilakukan anak akan terasa nikmat dan bukan rasa yang susah pada anak.
Apabila orang tua sukses telah
sukses dalam melakukan tips latihan ini, maka orangtua tidak perlu khawatir
dengan pembicaraan orang lain, “Kenapa sudah diajak puasa? Kasihan, ‘kan dia
masih kecil.”
2. MEMBANGUN
MENTAL PSIKOLOGIS ANAK
Setiap anak pasti
mengharapkan memiliki keluarga yang bahagia dan menyenangkan. Orangtua memiliki
kewajiban menghadirkan suasana Romadhon yang menyenangkan dalam dunia anak,
misalnya membangunkan anak dipagi hari untuk sahur, berbuka puasa bersama,
mengajak anak ke masjid untuk sholat tarawih bersama, mengajak anak untuk
tadarus Al Quran bersama dll. Kegiatan-kegiatan tersebut dilaksanakan secara
bersama sambil menceritakan maknanya pada anak, kenapa tidak makan minum di
siang hari, kenapa sholat tarawih bersama di masjid dll. Secara otomatis, otak
anak akan menangkap moment-moment sukacita kebersamaan bersama keluarganya. Hal
ini akan membangun mental anak untuk siap melakukan ibadah puasa dan
ibadah-ibadah yang lain.
3. MEMBERIKAN
STIMULASI KEGIATAN POSITIF PADA ANAK SELAMA PUASA
Menjadi orang tua yang
cerdas dan kreatif sangat diperlukan dalam melatih puasa pada anak, salah satunya
dengan cara mengalihkan perhatian anak dari rasa lapar dan haus. Orangtua dapat
membuatkan mainan untuk anak-anak atau mengajak anak bermain bersama seperti
yang dikisahkan kaum Anshor di Madinah saat puasa Asy Syura’. Khalifah
Umar pernah mengamanahkan kepada para pendidik agar mendidik anak sesuai dengan
jaman masing-masing. Orangtua dapat mengajak anaknya bermain di halaman masjid,
Jadi yang penting dalam hal ini membuat anak sibuk dengan aktivitas-aktivitas
yang dapat mengalihkan rasa lapar dan haus, misalnya : bermain playdough, lego, mobil-mobilan, boneka,
membaca buku cerita, belajar memasak dll. Orang tua dapat memanfaatkan waktu menunggu
buka puasa anak atau sesudah sahur sambal menunggu waktu subuh dengan cara melatih
hafalan doa sehari-hari dan hafalan
surat pendek. Orang tua dapat menyiapkan tabel hafalan untuk mengetahui
kenaikan kemampuan anak. Orang tua dapat memberikan hadiah pada anak apabila
tabel-tabel tersebut sudah dipenuhi dengan kegiatan-kegiatan positif.
Hal yang perlu diperhatikan
orang tua adalah permainan yang diberikan kepada anak tidak boleh yang
membutuhkan energi yang banyak seperti permainan fisik motoric (lari-larian,
panjatan dll). Selain itu, tentu saja disesuaikan dengan kesukaan si kecil dan
tidak melanggar syaria’at Allah
4. MEMBERIKAN
VARIASI MAKANAN DAN MINUMAN YANG BERGIZI DAN KESUKAAN ANAK
Orang tua dalam melakukan
latihan pada anak dapat memberikan sahur yang bergizi, begitu pula saat berbuka
puasa haruslah seimbang, misalnya nasi-lauk pauk (sayur, tahu, tempe, ikan,
daging); susu; buah-buahan dan kurma. Jangan lupa memberikan madu untuk anak
dan minum air banyak saat sahur agar memberikan kekuatan pada anak siang
harinya. Masih banyak contoh makanan dan minuman yang bernutrisi lainnya yang
dapat diberikan untuk anak. Selain itu, orang tua dapat memberikan snack ringan
yang sehat pada malam hari misalnya buah dan bubur kacang hijau.
Orang tua dalam memilih
menu makanan berbuka dan sahur dapat mengajak anak berdiskusi. Hal ini akan menyenangkan
bagi anak apalagi menu-menu yang dipilih adalah yang disukai anak-anak. Apabila
hal ini menjadi kebiasaan pada anak maka ini menjadikan badan anak lebih bugar
dan sehat karena anak dapat terbiasa makan dengan teratur.
5. MELATIH
DENGAN MEMBIASAKAN SESUAI UMUR DAN KEMAMPUANNYA SERTA DALAM KONDISI ANAK SEHAT
Melatih puasa anak menjadi
kebiasaan tidak bisa seperti membuat mie goreng yang langsung jadi dalam waktu
5 menit, sangat dibutuhkan proses dalam melaksanakan dan harus dengan penuh
kesabaran. Hal-hal yang dapat dilakukan orang tua misalnya: Apabila anak baru
pertama kali berpuasa mungkin dimulai dengan sampai dhuhur saja, apabila kuat
mungkin dengan tips “puasa nyambung” yakni anak puasa sampai dhuhur kemudian
buka dan dilanjutkan dengan puasa sampai matahari terbenam. Apabila anak
tersebut kuat maka bisa dilanjutkan dengan puasa dari sahur sampai maghrib.
6. MELATIH
SEBELUM ROMADHON TIBA
Melatih puasa pada anak tidak
langsung pada saat bulan Romadhon tetapi dapat dipersiapkan bulan-bulan
sebelumnya, misalnya apabila orangtua berpuasa senin dan kamis atau puasa-puasa
sunnah lainnya mungkin anak dapat diajak serta untuk latihan berpuasa.
7. MEMBERIKAN
MOTIVASI PADA ANAK
Memberikan motivasi pada
anak agar semangat berpuasa dengan kalimat-kalimat yang baik, misalnya :
“Allah
pasti sayang sama hambanya yang rajin puasa”
“ Kalau
kita rajin puasa, pasti pahalanya akan banyak”
“ Kalau
tabungan pahalanya banyak maka sama Allah akan dimasukkan surga”
“ Surga
itu indah dan enak”
“Anaknya
ayah bunda semangat ya puasa nya, hebat bisa menahan lapar dan haus”
Komentar
Posting Komentar